Jumat, 12 November 2010

Makalah tentang Usaha Katering

Makalah Usaha Katering

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Menggeluti bisnis makanan Selain menghasilkan keuntungan yang tinggi, makanan juga menjadi kebutuhan pokok bagi setiap orang. Jadi, dimanapun, kapanpun, kita membutuhkan makanan sebagai sumber pokok kehidupan. Menekuni bisnis pembuatan makanan memang membutuhkan ketekunan dan keuletan yang tinggi. Karena yang menjadi pertimbangan utama dalam menekuni bisnis ini adalah cita rasa. Salah satu bidang yang bisa digeluti dari bisnis makanan adalah usaha katering. Katering biasanya dibutuhkan pada berbagai acara seperti pesta perkawinan, seminar, acara keagamaan, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut membutuhkan makanan dalam jumlah tertentu. Pada kegiatan-kegiatan tersebut, biasanya pihak penyelenggara menyewa jasa catering untuk menyiapkan makanan sesuai dengan kebutuhan.

1.2 Identifikas Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan maka dapat diidentifikasi beberapa masalah yang ditemui dalam usaha catering :
1. Mental untuk membuka usaha katering
2. Masalah Operasional
3. Sarana & prasarana
4. Modal kerja
5. Pemasaran
6. Lokalisasi bisnis
7. Analisa ekonomi

1.3 Perumusan Masalah
Dari identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka timbul beberapa pertanyaan yang merupakan rumusan masalah penelitian,yakni sebagai berikut :
a. Bagaimana cara meyiapkan mental untuk membangun usaha katering ?
b. Bila sekiranya mental sudah teratasi,bagaimana dengan masalah operasional ?
c. Bagaimana cara yang baik untuk memilih saran & prasana yang baik untuk usaha katering ?
d. Bagaimana dengan modal kerja untuk membangun usaha catering ?
e. Bagaimana masalah pemasarannya ?
f. Lokalisasi bisnis yang seperti apakah yang strategis?
g. Bagaimana analisa ekonomi untuk usaha catering ?

1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fakta, data dan hal-hal yang berkaitan dengan usaha katering.


II. Landasan teori
Menggeluti bisnis makanan memang tidak ada matinya. Selain menghasilkan keuntungan yang tinggi, makanan juga menjadi kebutuhan pokok bagi setiap orang. Jadi, dimanapun, kapanpun, kita membutuhkan makanan sebagai sumber pokok kehidupan. Menekuni bisnis pembuatan makanan memang membutuhkan ketekunan dan keuletan yang tinggi. Karena yang menjadi pertimbangan utama dalam menekuni bisnis ini adalah cita rasa. Apabila makanan kita sudah sesuai dengan selera konsumen, maka dijamin pesananpun akan terus mengalir. Memang ini tidak dijamin seratus persen, karena ada juga konsumen yang selain mencari selera makan yang pas, tetapi juga mencari tempat yang sesuai.

III. Meteologi penelitian
Metode yang saya gunakan dalam penyusunan masalah ini adalah observasi perpustakaan, dan deskriptif tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah agar penulis dapat mengetahui gambaran secara sistemetis, factual dan akurat. Mengenai fakta-fakta gejala yang sudah diselidiki.
Berikut ini langkah-langkah penyusunan:
1. menentukan topic yang akan dibahas
2. penyusunan merumuskan masalah
3. mengumpulkan data. (dalam hal ini penulis membaca buku, dan melakukan browsing internet)
4. penyusunan makalah

IV. Pembahasan
1. Mental untuk membangun usaha catering
Ketika ingin membuka usaha catering,pertama tama yang harus dipersiapkan adalah mental Karena untuk menghalang berbagai hambatan psikologis rasa malu, takut gagal dan memadamkan perang batin antara berkeinginan dan keraguan adalah langkah pertama yang harus diatasi.
2. Masalah Operasional
Setelah sekiranya beban mental sudah teratasi, maka hal berikutnya adalah masalah operasional.Dalam masalah operasional ini yang harus diperhatikan adalah pertimbangan kemampuan diri, keterampilan yang dimiliki yang menyangkut bidang pekerjaan itu. Misalnya untuk usaha katering, paling tidak yang dibutuhkan adalah mengerti tentang masakan. Namun untuk menjadi pengusaha katering juga tidak harus menjadi ahli masak dulu, tapi yang terpenting adalah mampu mengelola usaha itu, sementara untuk tenaga ahli yang bisa memasak kita bisa melakukan perekrutan.
3. Sarana & prasarana
Tersedianya sarana dan prasaran tersebut bukan berarti harus menjadi miliknya, tetapi bisa diperoleh dari meminjam atau menyewa. Kalau harus menunggu sampai perlengkapan dimiliki dulu, sampai kapan harus memulai usaha, kecuali memang tersedia dana yang cukup untuk investasi ke bisnis katering untuk jangka panjang.
4. Modal kerja
Setelah kelengkapan operasional terpenuhi, maka perlu diperhitungkan kemungkinan penggunaan modal kerja. Jika Anda mampu membangun relasi luas, kebutuhan modal kerja bisa tidak terlalu menyerap dana secara keseluruhan. Kebutuhan pembelian bahan baku misalnya, apabila sudah mempunyai langganan dan pemasok tetap, bisa diharapkan dapat dirundingkan cara-cara pembayaran secara mundur. Untuk menanggulangi pembelian tunai, bisa diharapkan dana dari uang muka pemesanan. Kekurangan peralatan bisa disewa dengan pembayaran di belakang, hanya cukup menyelesaikan uang mukanya saja. Untuk seterusnya, kekurangan dana yang tidak mungkin bisa diundurkan, bagaimanapun juga harus tetap disediakan. Untuk mengetahui kebutuhan dan kekurangan dana secara tepat, maka harus disusun aliran dana yang rapi dan rasional, bertolak pada harga pasar.
5. Pemasaran
Selanjutnya adalah masalah pemasaran, yang merupakan kunci penting untuk diperhatikan. Sudah menjadi kelaziman bahwa usaha katering bekerja berdasarkan pesanan. Kegiatan produksi dimulai apabila telah pesanan telah diterima. Maka, tanpa pesanan, kegiatan produksi perusahaan katering tidak bekerja. Yang bekerja sepanjang tahun atau selama bisnis itu hidup adalah pemasaran, keuangan dan administrasi.
6. Lokalisasi Bisnis
Hal lain yang harus diperhatikan adalah lokalisasi bisnis . Perusahaan katering, mengingat sifat pekerjaannya adalah memburu pasar dimanapun juga, maka lokasi bisnis memang tidak harus mempertimbangkan yang strategis. Usaha katering dapat dioperasikan di mana saja, sementara dapat memanfaatkan ruangan dari bagian rumah pribadi Anda. Tetapi untuk dapur, diusahakan paling tidak ada jalan yang dapat dilewati mobil. Sebab kalau usaha berkembang, kendaraan inilah yang akan merupakan alternatif pengangkutan.
7. Analisa ekonomi
Untuk pesanan “partai kecil”
Pemasukan
Snack : 200 x Rp 4.000,00 = Rp 800.000,00
Nasi box : 200 x Rp 8.000,00 = Rp 1.600.000,00
Total pemasukan = Rp 2.400.000,00

Pengeluaran
Belanja bahan baku snack = Rp 500.000,00
Belanja bahan baku nasi box = Rp 800.000,00
Biaya operasional = Rp 100.000,00
Total pengeluaran = Rp 1.400.000,00
Keuntungan
Laba bersih = Rp 2.400.000,00 - Rp 1.400.000,00
= Rp 1.000.000,00
V. Kesimpulan
Bahwa untuk memulai usaha catering berasal dari kegigihan kita untuk membangun usaha tersebut. Dan tidak memerlukan biaya yang besar. Demikian makalah yang saya buat

Daftar pustaka : http://bisnisukm.com/kiat-sukses-membuka-usaha-katering.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar